Kesukaanku dan puisi..
Apakah yang jadi benang merah antara keduanya?
Dulu, penyair yang paling tertanam di sudut hati dan pikiranku adalah Chairil Anwar.
Semenjak aku mengenal Habibah, teman yang mengenalkanku pada kata - kata, yang ranum dan tinggal kupetik saja di pohonku yang berbuah setiap waktu, dia membawaku mengenal Sapardi Djoko Damono, dengan Sihir Hujan dan cerita lamanya tentang hujan. Yang membuatku percaya, mencintai hujan bukanlah dosa besar. Mengharapnya turun di bulan Juni pun bukanlah Dosa. Belajar mencintai dengan cinta yang paling sederhana.
Joko Pinurbo dengan antologinya tentang celana.
Kepada Puisi
Kau adalah mata, aku airmatamu.
(Joko Pinurbo,2003)
Berapa kali pun, dia mengenalkanku pada banyak sastrawan - sastrawan terkenal. Termasuk memberiku Michael K. sebuah buku sastra pemenang Nobel Sastra, dan Ernest Hemingway dengan Lelaki Tua dan Laut.
Lalu kami sering bertukar cerita tentang banyak hal, musik - musik favorit kami, alunan merdu Letto, Padi, dan musikalisasi Sapardi Djoko Damono.
Habibah tahun ini berkesempatan mengunjungi Tanah Suci, kukatakan padanya untuk mendoakan cita2 kita, Perancis dan Inggris, lekuk - lekuk sastra Tanah Eropa.
Seperti kata Andrea Hirata
"Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi - mimpimu"
Aku akan terus mencintai hujan, merindukan Oxford, dan membayangkan tegak berdiri di tanah Eropa, sebelum banyak hal kuminta pada Tuhan, lebih jauh...
lebih jauh lagi...
Dari Hujan Bulan Juni,
HUJAN BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono
Karya sastra seringkali membuat kita mabuk kepayang, lupa melakukan apa - apa, karena ingin menuangkan karya - karya diatas kertas putih yang suci, meskipun kadang terbuntu dengan banyak problema kehidupan yang rumit...
PENGARANG
Pengarang, engkau
sungguh sabar menunggu
ide yang tanpa kabar.
Dirimu sangat percaya diri
meskipun karyamu
tidak banyak terbeli.
(Joko Pinurbo)
Menurutku, menulis kadang memang rumit, tapi terasa sangat mudah saat kita membaca karya Sutardji Calzoum Bahri
KALIAN
pun
Hm, bagaimana? Sangat mudah, padahal hanya menulis satu kata, tapi membuat tiap katanya bisa mewakili perasaan kita, hmm...aku rasa, akan sangat sulit bila kita tak mampu berandai - andai dan memainkan kata2...
Waktu diadakan Diklat Jurnalistik, sekolah kami mendatangkan Ahmad Kekal Hamdani, seorang santri, mahasiswa, dan sastrawan Yogyakarta yang mampu merebut hatiku kala itu....
Well, benang merah dari semua kesukaan itu adalah sastra dan puisi...
Meskipun hanya sangat sedikit yang benar - benar mau membaca tulisan - tulisanku...
rasanya, mengarang tetap sangat mengasyikkan, karena menulis tidak bertujuan agar orang lain membacanya(SA)
Kali ini motivation word dari Pak Imam
"Berusaha meminimalisir keluhan, agar kita tetap terus bersyukur"
Okeh, terus semangat menuju Hamparan Ladang Cita - cita...Apakah UPI Bandung, Unram NTB, atau IPB...wallahu'alam bissshowaab..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar